Jumat malam kemarin, sebagian besar wilayah di Jakarta diguyur hujan yang begitu deras. Gemericik dan curahan air dari langit itu tak hanya menyejukkan suasana kota, tetapi juga melapangkan dan menyejukkan hati kita semua yang bersiap menimba ilmu.

Di tengah suasana yang teduh itu, alhamdulillah, K.H. Faiz Syukron Makmun (Gus Faiz) kembali berkenan hadir mengisi Majelis Bulanan Menteng. Majelis ini sebuah ikhtiar pengajian rutin yang senantiasa kami rawat bersama di Jalan Surabaya 45 pada setiap Jumat terakhir di akhir bulan.

Pada majelis kali ini, Gus Faiz membawa kita mendalami mutiara kebenaran dari Hadis ke-12 dan Hadis ke-13 dalam kitab Arbain An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi. Pengajian malam itu benar-benar menjadi cermin untuk melihat kembali sejauh mana kualitas iman dan akhlak kita dalam berinteraksi sehari-hari.

Pesan pertama dari kajian tersebut, tentang Hadis ke-12, menekankan pentingnya mawas diri: kontrol lisan, kontrol hati, dan kontrol ketikan di era digital hari ini. Gus Faiz mengingatkan agar kita tidak gampang mengomentari sesuatu yang bukan menjadi domain atau spesialisasi kita secara liar tanpa kendali. Setiap perkataan dan jemari kita dituntut untuk cermat dan bertenggang rasa.

Memasuki Hadis ke-13, kita diajak menyelami esensi kesetiakawanan rasa. Logikanya sederhana namun mendalam: jika kita tidak ingin dipukul, jangan memukul; jika kita ingin dicintai dan dihormati orang lain, perlakukanlah orang lain dengan kebaikan yang sama.

Namun, Gus Faiz memberikan catatan kritis yang sangat menghujam dada mengenai relasi persaudaraan:

“Sering kali ada orang yang begitu mengagungkan ukhuwah di luar rumah, ramah dan pemurah kepada orang lain yang bahkan tak dikenal, tetapi justru menomor-duakan persaudaraan di dalam rumah sendiri. Di luar tampak sangat baik, tetapi di dalam rumah kurang menyayangi keluarga sendiri.”

Gus Faiz menjelaskan bahwa memberi makan atau berbuat baik kepada orang asing yang kelaparan memang bagian dari kesempurnaan iman. Namun, menjadi ironis dan catatan berat jika kita sanggup berbagi kepada orang jauh yang belum tentu menerima kebaikan kita, tetapi justru enggan berbagi dan berbuat baik kepada pasangan, suami atau istri, serta anak dan kerabat yang jelas-jelas hadir sehidup semati dan berjasa dalam hidup kita.

Kiai Faiz memberi analogi indah tentang hubungan suami istri. Seorang suami bekerja banting tulang demi keluarga. Sementara seorang istri yang sadar bahwa suaminya adalah orang yang awalnya tidak memiliki hubungan darah, namun rela berjuang untuknya, merayakan cinta itu dengan kelembutan hati: pura-pura kenyang dan mendahulukan hidangan terbaik untuk suaminya.

Pesan ini berkelindan tegas dengan Surah Al-Balad. Beragama yang paling berat itu bukanlah sekadar ritual yang tampak megah, melainkan keberanian untuk memberi dan berbagi di saat sama-sama dalam kondisi sulit, khususnya kepada anak yatim yang masih memiliki hubungan kerabat dan keluarga terdekat. Jangan sampai kita bangga memberi kepada orang luar, tetapi menganggap memberi kepada istri dan keluarga sendiri sebagai sebuah beban.

Gus Faiz juga memberikan contoh keteladanan yang sangat kontekstual. Beliau menceritakan pengalaman saat pelaksanaan tahlilan almarhum ayahanda beliau, KH. Syukron Makmun, beberapa waktu lalu. Acara tahlilan ditargetkan selesai tepat pukul 10 malam agar tidak memicu kemacetan parah di lingkungan tempat tinggal yang dapat mengganggu kenyamanan warga sekitar, meskipun saat itu pelayat masih terus berdatangan.

Mempertimbangkan kenyamanan orang lain di sekitar kita adalah wujud nyata dari kelembutan hati dan empati. Sebab pada hakikatnya, iman itu bersemayam di dalam hati, dan muaranya adalah memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan.

Terima kasih yang mendalam kami haturkan kepada Kiai Faiz Syukron Makmun atas kedalaman kajian, wawasan keilmuan, serta doa-doa terbaik yang senantiasa dipanjatkan untuk Majelis Bulanan Menteng kita ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan dan keberkahan bagi Kiai beserta keluarga.

Sampai jumpa di Majelis Bulanan berikutnya, sahabatku!

0 CommentsClose Comments

Leave a comment