Minggu-minggu ini, linimasa kita diserbu oleh sebuah jingle yang susah pergi dari kepala. “MBG, Mas Bahlil Ganteng. Buah apa yang paling manis? Buahlil. Tambah ganteng aja, my little bolu ketan…”
Saya ikut menikmati fenomena ini dengan senyum. Tapi saya juga ingin membacanya sedikit lebih dalam.
Ipang Wahid, pakar komunikasi politik yang sudah malang melintang di hampir semua pemilu langsung Indonesia, menuliskan sebuah catatan penting tentang fenomena ini. Ia menyebutnya Participatory Culture—kultur internet di mana audiens bukan sekadar menonton, tapi ikut membuat versi mereka sendiri.
Dan menurutnya, inilah kasta viral tertinggi.
“Dulu yang namanya viral itu sekadar awareness tinggi. Tapi di era algoritma sekarang, the real viral adalah netizen akan mulai FOMO ikut bikin versi mereka sendiri.”
Yang membuat saya lebih kagum bukan viralitasnya, melainkan cara Bang Bahlil menghadapinya.
Perlu diingat, lirik MBG lahir dari komentar-komentar yang sejatinya adalah ejekan terhadap penampilan fisiknya. Pada Oktober 2025, saat meme-meme bernada hinaan viral, ada pihak yang membela lalu merespons dengan laporan polisi. Bang Bahlil justru meredam: “Kalau ada yang meme-meme, sudahlah saya maafkan. Kalau sudah ada yang minta maaf, ya maafkan. Allah saja memaafkan umat-Nya.”
Kali ini pun responnya mengundang senyum. Dari tanah suci Makkah, Bang Bahlil bercerita kepada Raffi Ahmad bahwa setiap pagi ia ditertawakan oleh anaknya sendiri gara-gara lagu ini. “Karena penasaran juga saya. Saya lagi umroh, tapi setiap pagi bangun anak saya aja ketawain saya,” ujarnya sambil tertawa.
Bang Bahlil juga malah penasaran ingin bertemu langsung dengan sang pencipta lagu untuk makan bersama.
Hanya satu pesannya yang serius: “Di era demokrasi, media sosial ini penting. Tapi kalau boleh, kita gunakan dengan terukur. Jangan sampai masuk isu SARA.”
Bagi saya yang mengenal Bang Bahlil dari dekat, ketenangan itu bukan kebetulan. Ia adalah buah dari perjalanan hidup seorang anak kampung dari Banda yang sudah terbiasa menghadapi dunia yang tidak selalu ramah.
Jadi, kepada siapa pun di luar sana yang sedang mengolah komentar netizen menjadi melodi berikutnya, teruslah berkreasi. Ruang digital kita butuh lebih banyak tawa, selama ia lahir dari kecerdasan, bukan dari kebencian.