Makassar 400 tahun yang lalu bukan sekadar wilayah di peta; ia adalah kota dunia. Di awal abad ke-17, tanah kelahiran kita ini berdiri kokoh sebagai pelabuhan bebas internasional, pusat perdagangan rempah dunia, sekaligus episentrum penyebaran Islam di timur Nusantara di bawah naungan Kesultanan Gowa. Di lingkungan yang sarat akan tradisi keilmuan dan budaya yang kuat itulah, lahir seorang manusia langka bertaraf internasional: Syekh Yusuf Al-Makassari.

Jumat (22/5) pagi kemarin, bertempat di Warkop Daeng Anas, Jalan Faisal, Kota Makassar, saya berkesempatan pulang ke rumah untuk memantik kembali ingatan kolektif kita melalui diskusi bertajuk “400 Tahun Syekh Yusuf, Jejak Tasawuf, Politik, dan Relevansinya bagi Pemuda Sulsel”. Bersama para akademisi, aktivis, dan tokoh pemuda, kami berkumpul untuk satu misi: memastikan momentum 400 tahun Syekh Yusuf yang telah diakui oleh UNESCO ini menjadi pemantik kebangkitan moral dan intelektual anak muda Sulawesi Selatan maupun nasional.

Bagi saya, esensi ketokohan “Tuanta Salamaka” yang paling relevan untuk diteladani Gen-Z dan milenial hari ini adalah posisinya sebagai seorang intelektual sejati yang memiliki dahaga luar biasa akan ilmu. Beliau adalah figur yang di mana pun berkelana—mulai dari Aceh, Mekkah, Madinah, Yaman, hingga dibuang ke Sri Lanka dan Afrika Selatan—tidak pernah berhenti belajar dan mengajar.

Ketenaran beliau di skala internasional bukanlah hasil instan. Sifat haus ilmu itulah yang membentuk keberanian moral beliau. Ajaran tasawuf Syekh Yusuf terbukti tidak membuat beliau menjadi pasif dan menjauh dari dunia. Sebaliknya, tasawuf beliau menyentuh aspek sosial dan kemanusiaan yang konkret: mengajarkan perlawanan terhadap ketidakadilan dan kolonialisme di garis depan pertempuran.

Ariefrosyid.i_Api Perjuangan Syekh Yusuf

Inisiasi Syekh Yusuf Corner di UIN Alauddin

Alhamdulillah, gagasan kami untuk membumikan kembali spirit Syekh Yusuf di kalangan generasi muda mendapat respons yang sangat konkret dari dunia akademik. Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, Kanda Syahrir Karim, menyambut baik dorongan ini. Sebagai langkah awal yang nyata, kami mendorong hadirnya Syekh Yusuf Corner di kampus UIN Alauddin Makassar.

Kehadiran Syekh Yusuf Corner ini nantinya diproyeksikan menjadi pusat literasi, kajian manuskrip, dan ruang diskusi bagi mahasiswa untuk membedah pemikiran geopolitik dan spiritualitas beliau. Kita ingin anak muda Makassar bangga, bukan sekadar karena beliau berasal dari tanah yang sama, tetapi karena mereka memahami kedalaman isi kepala dan keteguhan prinsip sang Rajawali dari Timur.

Melalui Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) dan kolaborasi lintas elemen yang terus bergulir, saya ingin menantang anak-anak muda di Makassar dan Indonesia: jika 400 tahun lalu Makassar bisa melahirkan tokoh dunia yang menginspirasi kemerdekaan Afrika Selatan, mengapa hari ini kita tidak bisa melakukan hal yang sama?

Mari kita jadikan momentum 400 tahun ini untuk menyalakan kembali sikap kritis, keberanian moral, dan kegigihan menuntut ilmu yang dicontohkan oleh Syekh Yusuf.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment