Kamis malam, 29 Mei lalu, Majelis Bulanan Menteng kembali hadir dengan kehangatan yang khas. Seperti biasa, malam dibuka dengan pembacaan salawat dan Ratibul Haddad yang mengalun khidmat, sebelum kami masuk ke kajian utama yang diasuh oleh KH. Faiz, Ketua MUI DKI Jakarta. Malam itu kami juga bersyukur atas kehadiran Guru Besar Unhas dan ex-Ketua Bawaslu dan DKPP, Prof. Muhammad Al Hamid, Guru Besar UIN Gus Dur Prof. Sam’ani, serta kawan-kawan lainnya baik aktivis, rekan-rekan di lingkup Golkar, dan lainnya. 

Malam itu kami mengaji Hadits Kesepuluh, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. KH. Faiz membuka dengan sesuatu yang langsung menghunjam: Abu Hurairah baru masuk Islam pada Perang Khaibar, tahun ke-7 Hijriyah. Ia bergabung sekitar dua puluh tahun lebih lambat dari Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Namun ia meriwayatkan lebih dari 5.300 hadits, jauh melampaui para sahabat senior yang lebih lama bersama Nabi.

Rahasianya satu: mulazamah. Kedekatan yang total dan konsisten. Abu Hurairah memilih tidak sibuk bertani seperti kaum Anshar, tidak berdagang seperti kaum Muhajirin. Ia memilih satu hal: ‘nyantol’ kepada Nabi selama masih bisa. Dan hasilnya melampaui mereka yang lebih dulu hadir namun perhatiannya terbagi.

Inti kajian malam itu berputar pada hadits: “Innallaha thayyibun wa la yaqbalu illa thayyiban”—Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Faiz menekankan perbedaan yang sering kita kabur-kaburkan: antara sah dan diterima. Keabsahan amal bisa kita ukur, ada rukunnya, ada syaratnya. Tapi penerimaan amal? Itu hak prerogatif Allah semata. Dan salah satu yang menghalangi penerimaan itu adalah ketika yang kita hadirkan kepada Allah tidak thayyib, tidak baik, tidak bersih, tidak tulus.

Yang paling menggugah bagi saya adalah pesan soal rezeki. Halal itu soal status hukum. Tapi thayyib adalah soal keberkahan. Bisa jadi sesuatu yang kita dapat secara halal, namun cara mendapatkannya, niat di baliknya, atau pemanfaatannya membuat ia kehilangan barokah.

Ilustrasi yang disampaikan KH. Faiz sangat membekas: seorang musafir yang kelelahan, berdebu, mengangkat tangan berdoa dengan penuh harap, namun makan, minum, dan pakaiannya dari yang haram. Bagaimana doanya akan diijabah, jika hidupnya sendiri bertentangan dengan perintah Dia yang ia minta?

Pesan yang paling saya bawa pulang malam itu adalah tentang menjaga hati dari kesombongan dan ketidakjujuran niat. KH. Faiz mengingatkan: yang sampai kepada Allah bukan darah kurban, bukan nominal sedekah, bukan gelar atau jabatan yang kita sandang. Yang sampai adalah hati.

Maka pertanyaannya bukan hanya “apakah ini halal?” tetapi “apakah ini thayyib?”—apakah niat saya bersih, apakah cara saya bermartabat, apakah hati saya hadir ketika melakukannya.

Terima kasih untuk seluruh jamaah yang hadir malam itu, untuk KH. Faiz atas ilmu yang selalu membumi, dan untuk Prof. Muhammad Al Hamid, Prof. Sam’ani, dan rekan-rekan atas kehadirannya yang menyejukkan. Sampai jumpa di Majelis Bulanan Menteng berikutnya.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment