M. Arief Rosyid Hasan (Ketua Umum PB HMI 2013-2015, Sekretaris Akademi Partai GOLKAR)

Di TPU Pondok Ranggon, pagi tepat pukul 08.00 (10 September 2026), saya menanti kedatangan almarhum Kanda Airlangga Pribadi di dalam mobil. Hampir 30 menit berlalu, saya memilih mencari angin segar di pinggir hamparan pemakaman Islam & Kristen. Dari dekat, saya melihat Kanda Taufik Hidayat (Ketum PB HMI 1995-1997, tokoh senior GOLKAR) duduk sendirian. Celetuknya, kita mewakili Pondok Bambu datang kepemakaman ini, tempat tersebut disematkan pada rumah kanda Fachry Ali.

Rumah itu bagi banyak sekali aktivis senior dan junior, juga kalangan NU Muhammadiyah hingga elit seluruh Partai, digunakan sebagai ruang perjumpaan pengetahuan, berulang kali dilaksanakan bedah buku hingga bedah disertasi karya orang-orang yang datang dengan beragam latar belakang. Titik temu semua corak manusia, mirip fungsi rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh, Surabaya menjadi ruang interaksi para pendiri bangsa Indonesia.

Setidaknya saya hadir dalam empat kali kesempatan diskusi, buku “Perjalanan Intelijen Santri” karya KH. As’ad Said Ali, buku “Negara Rasional: Warisan Pemikiran Ibnu Khaldun” karya KH. Abdul Azis Ahmad, disertasi “Diskursus Pemikiran Geopolitik
Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara” oleh Hasto Kristiyanto, hingga dua bulan lalu disertasi “Kontestasi Elite dan Basis Politik : Studi Partai Golkar Era Pemerintahan Joko Widodo 2014-2019” karya Riyono Asnan.

Dua yang terakhir, seingat saya panelis diskusinya adalah Kanda Airlangga Pribadi. Setiap kali beliau mengungkapkan pikirannya yang amat dalam dan tajam tentang Soekarno, seketika orang berbisik maupun spontan teriak “lebih Soekarnois dibanding GMNI”. Kurang lebih, guyonan ini juga yang sempat terlontar dari Mas Hasto (Sekjen PDIP) dalam diskusi panjang tentang disertasinya yang dibahas hingga jelang larut malam, jelang pergantian hari di rumah Kanda Fachry Ali.

Itulah kesan yang saya sering kali peroleh tentang Kanda Angga, hingga kabar kematiannya menyeruak masih banyak yang menanyakan apa benar almarhum adalah alumni HMI, bukannya GMNI? Ini semakin membuktikan kader HMI, terserak dimana-mana. Sejak awal doktrinnya, menjadi Islam itu tidak harus tertutup, tapi terbuka dengan segala bentuk corak pemikiran dan pergaulan. Selain itu kader HMI dididik untuk total berjuang dimanapun ladang pengabdiannya, tentu dalam rangka kebaikan dan kebenaran.

Masa Depan Umat dan Bangsa

Tepat 7 tahun lalu, perkenalan saya secara langsung dengan kanda Angga. Sebelumnya tentu saja sudah mengenalnya dari syiar pengetahuannya di berbagai media. Momen itu ketika saya diminta oleh Kanda Fachry Ali untuk mengundang almarhum sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan Tasyakuran usia saya yang ke – 33 Tahun, sekaligus Launching Buku dan Dialog Tokoh “Masa Depan Umat dan Bangsa” di Jl. Imam Bonjol No. 16 Menteng (4 September 2019).

Seperti kebiasaannya dipanggung diskusi maupun seminar, beliau selalu berapi-api dalam menjelaskan bagaimana Islam selama ini hanya menjadi buih di lautan. Ini juga ia lontarkan ketika kami mengundangnya dalam peluncuran buku di asrama haji, Lokasi Kongres HMI ke – 31 di Surabaya Jatim, tempat dia mengajar. Kalangan Islam mengalami majority with minority mentality, jumlahnya sangat besar tapi terpinggirkan secara sosial, ekonomi, politik, hingga pendidikan.

Yang juga menarik dan amat sangat membekas, dalam berbagai kesempatan ketika silaturrahim dan ngopi dengan kanda Angga, beliau selalu menekankan pentingnya untuk menjaga kaderisasi di tubuh HMI. Jangan nyari uang, jangan nyari hidup, dan jangan bergantung pada HMI, tapi hidupkanlah HMI. Tentu saja menghidupkan HMI berarti menghidupkan berbagai turunannya, yakni Nilai-Nilai Dasar Perjuangan dan kesetiaan pada komitmen keumatan dan kebangsaan.

Saya ingin menutup tulisan singkat ini dengan mengingat apa yang dibicarakan oleh Kanda Budhi Utomo (alumni HMI ITS), detik-detik kedatangan jenazah almarhum ke pemakaman. Katanya Kanda Angga memang sejak kuliah di Surabaya, lebih dikenal sebagai orang yang amat gandrung diskusi dan selalu memerankan diri untuk pertajam berbagai isu nasional untuk di bawa ke Surabaya, atau Jawa Timur pada umumnya. Lanjutnya, orang tua almarhum adalah tentara aktif, mungkin itu yang mendorongnya tidak terlalu di depan memimpin massa aksi.

Akhirnya, kanda Angga adalah salah satu cermin ideal kader dan alumni HMI. Secara struktur di organisasi, meskipun karirnya berhenti hanya di tingkat HMI komisariat Fisip Unair. Tapi dimanapun ia selalu setia berkiprah sebagai insan cita yang sempurna, menjalankan tujuan HMI yakni “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”. Semoga almarhum husnul khatimah, keluarga tabah, dan kita semua bisa mewarisi meneruskan berbagai kebaikannya. Alfatihah!

0 CommentsClose Comments

Leave a comment