Sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), saya memandang tugas mengajar bukan sekadar menyampaikan teks dari buku, melainkan membuka jendela realitas bagi para mahasiswa. Sesuai dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi, saya berkomitmen untuk membawa jejaring profesional yang saya miliki ke dalam kelas, agar mahasiswa mendapatkan ilmu langsung dari para pemangku kebijakan.

Menurut riset dalam Journal of Education for Business, keterlibatan langsung dengan pakar industri atau pembuat kebijakan dapat menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan aplikasi praktis, sekaligus memperkuat retensi informasi melalui pengalaman belajar yang lebih relevan dan dinamis. Di bangku kuliah, pendekatan ini sangat efektif untuk mengubah mahasiswa dari sekadar penerima informasi pasif menjadi analis yang kritis terhadap isu-isu strategis bangsa.

Pekan ini, saya merasa terhormat dapat mengundang rekan seperjuangan saya saat menempuh studi S3 di FKM UI, Ibu Dr. Etik, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan di Kementerian Kesehatan RI.

Kehadiran beliau di kelas sangat krusial. Beliau memaparkan materi yang sangat strategis mengenai arah kebijakan kesehatan Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Mahasiswa tidak hanya melihat program kesehatan sebagai “aktivasi” di lapangan, tetapi diajak memahami design thinking dan landasan filosofis di baliknya.

Dr. Etik menjelaskan bahwa pembangunan kesehatan telah tertuang secara tegas dalam Asta Cita, khususnya pada bagian pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Pada poin kedua Asta Cita tersebut, terdapat mandat yang sangat jelas mengenai penguatan sistem kesehatan nasional.

Beliau juga membedah program-program yang masuk dalam kategori Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win pemerintah, di antaranya:

  • Pemeriksaan Kesehatan Gratis: Langkah preventif massal yang manfaatnya mulai dirasakan masyarakat luas.
  • Akselerasi Penurunan TBC: Target ambisius menurunkan kasus TBC hingga 50% dalam lima tahun ke depan.
  • Pemerataan Infrastruktur: Pembangunan rumah sakit lengkap dan berkualitas di setiap kabupaten agar akses kesehatan tidak lagi terpusat di kota besar.
  • Penguatan Layanan Publik: Peningkatan kualitas BPJS Kesehatan serta memastikan ketersediaan obat-obatan yang terjangkau bagi seluruh rakyat.

Bagi para mahasiswa, sesi ini bukan sekadar kuliah tamu biasa. Ini adalah momen untuk mengasah daya kritis mereka. Mengetahui desain kebijakan dari tangan pertama membantu mereka memahami tantangan, kompleksitas, dan cara pemerintah merespons kebutuhan publik.

Mudah-mudahan, kehadiran Dr. Etik dapat memperluas wawasan dan menjadi pemantik bagi para mahasiswa untuk menjadi pengawal program-program baik pemerintah, sekaligus aktor aktif dalam menyukseskan pembangunan nasional.

Terima kasih banyak, Bu Dr. Etik, atas kesediaan waktunya berbagi ilmu dan inspirasi bagi calon-calon pemimpin masa depan di UMJ!