Salah satu pemandangan yang paling konsisten saya temui saat mendampingi Ketua Umum DPP Partai Golkar, Abangda Bahlil Lahadalia, adalah tumpukan buku. Di tengah jadwalnya yang luar biasa padat—baik sebagai menteri yang mendampingi Presiden Prabowo maupun sebagai nakhoda partai—beliau selalu menyempatkan diri untuk membaca.

Siapa pun yang pernah berada di dalam mobilnya, bertamu ke rumahnya, atau masuk ke ruang kantornya, pasti akan melihat buku berserakan di mana-mana. Bagi Bang Bahlil, buku bukan sekadar pajangan, melainkan kompas dalam mengambil keputusan.

Ketertarikan beliau pada literasi bukan tanpa alasan. Di berbagai panggung resmi partai, Bang Bahlil sering terlihat membawa buku sejarah untuk menjelaskan kepada para kader mengenai jati diri Golkar yang sebenarnya. Beliau mengupas tuntas bagaimana sejarah lahirnya Sekber Golkar dari puluhan organisasi hingga bertransformasi menjadi partai politik besar seperti sekarang.

Begitu pun di Kementerian ESDM, terobosan kebijakan yang beliau lahirkan adalah hasil dari proses “membaca” dalam arti yang luas—baik membaca literatur teknis maupun membaca realitas lapangan. Beliau meyakini ungkapan Sir Francis Bacon bahwa “Knowledge is power” (Pengetahuan adalah kekuatan). Namun lebih dari itu, ada kutipan mendalam dari Thomas Jefferson yang relevan dengan visi beliau:

“I cannot live without books… Information is the currency of democracy.”

Bang Bahlil paham betul bahwa informasi dan pengetahuan adalah mata uang utama dalam demokrasi yang sehat.

Itulah mengapa pembangunan Perpustakaan DPP Partai Golkar menjadi salah satu program prioritas kepemimpinan beliau. Ini bukan sekadar membangun gedung, melainkan membangun ekosistem intelektual bagi para kader.

Secara global, partai-partai politik yang dianggap progresif dan bertahan melintasi zaman selalu memiliki ciri khas yang kuat dalam manajemen pengetahuan. Penelitian dari Journal of Political Parties menunjukkan bahwa partai yang memiliki pusat riset dan perpustakaan internal yang kuat cenderung memiliki kebijakan yang lebih terukur (evidence-based policy) dan tingkat kepuasan konstituen yang lebih tinggi.

Golkar memiliki peluang emas untuk berada pada level partai progresif dunia. Dengan infrastruktur organisasi yang sudah mapan hingga ke akar rumput, kehadiran perpustakaan dan tradisi literasi akan mengubah pola kaderisasi kita menjadi lebih substansial.

Partai progresif ditandai dengan kemampuannya mengolah data dan sejarah menjadi solusi masa depan. Dengan visi Bang Bahlil ini, Golkar sedang bergerak dan mempertebal posisinya sebagai partai modern, dan konsisten pada karya-kekaryaan.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment