Arief Rosyid Hasan
Ketua Umum PB-HMI 2013 – 2015
Founder Merial Institute

Saya pertama kali berkenalan dengan tulisan Pram pada tahun 2004, saat masih berada di bangku kuliah. Saat itu, membaca karyanya seperti membuka jendela baru tentang sejarah dan realitas yang tidak banyak diajarkan di ruang kelas. Ketertarikan saya terhadap pemikiran Pram terus tumbuh. Hingga akhirnya, bulan lalu saya berkesempatan datang ke Blora dalam peringatan 100 tahun kelahirannya. Berada di tanah kelahirannya, melihat bagaimana orang-orang merayakan warisannya, dan berdiskusi dengan mereka yang mencintai karyanya membuat saya semakin menyadari bahwa merawat pemikiran Pram bukan sekadar membaca ulang bukunya. Lebih dari itu, memahami konteks zamannya dan bagaimana relevansinya di masa kini.

Pramoedya Ananta Toer telah seratus tahun sejak kelahirannya, namun pemikirannya tetap bergema di tengah zaman yang terus bergerak. Ia adalah sastrawan sekaligus saksi dan pelaku sejarah yang menuliskan luka serta perlawanan di dalam karya-karyanya. Peringatan satu abad Pram bukan nostalgia semata, melainkan ajakan untuk kembali merenungkan bagaimana gagasan-gagasannya tetap relevan hari ini di tengah realitas sosial yang semakin kompleks.

Blora, tanah kelahiran Pram, bukan hanya latar bagi hidupnya, tetapi juga cermin bagi keresahannya. Dari sana, ia memahami kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan yang membentuk dasar pemikirannya. Bagi Pram, selain untuk berkisah, menulis juga adalah sebuah kesaksian. Ia menyusun sejarah dari sudut pandang orang-orang kecil, yang sering terlupakan oleh narasi resmi penguasa. Cerita dari Blora, misalnya, adalah kumpulan kisah yang menggambarkan getirnya kehidupan masyarakat kecil di kampung halamannya. Melalui cerita-cerita seperti “Dari Masa ke Masa” dan “Kemudian Lahirlah Dia,” Pram menunjukkan bagaimana kesenjangan sosial dan politik menindas rakyat kecil yang bahkan tidak memiliki ruang untuk sekadar mengeluh. Dalam salah satu ceritanya, ia menulis, “Orang kecil hanya bisa berharap, tetapi harapan pun seringkali bukan milik mereka.” Pernyataan ini mencerminkan betapa getirnya realitas yang dihadapi oleh mereka yang terpinggirkan. Cerita dari Blora mengajarkan kita bahwa ketidakadilan bukanlah sesuatu yang baru, dan suara mereka yang tertindas harus terus diperjuangkan agar tidak tenggelam dalam gelombang sejarah.

ariefrosyid.id_mas pram

Kesadaran kritis yang dibangun Pram lahir dari pengalaman hidupnya yang keras. Ia melihat bagaimana penindasan tidak hanya dilakukan oleh bangsa asing, tetapi juga oleh elite pribumi yang mengkhianati rakyatnya sendiri. Ia mengkritik feodalisme yang terus bercokol bahkan setelah Indonesia merdeka. Baginya, kemerdekaan bukan sebatas mengganti penguasa, melainkan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Kritiknya yang tajam terhadap ketidakadilan inilah yang membuatnya dijebloskan ke Pulau Buru tanpa pengadilan, tetapi tak menghentikan nyalinya untuk terus menulis. “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri,” tulisnya. Kutipan ini mencerminkan prinsip hidupnya yang menolak tunduk pada sistem yang menindas.

Salah satu warisan terbesar Pram adalah keyakinannya bahwa pendidikan dan literasi adalah jalan pembebasan. Ia menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat bagi rakyat untuk memahami dan melawan ketidakadilan. Dalam berbagai karyanya, ia menampilkan tokoh-tokoh yang berpikir kritis serta berusaha mencari kebebasan melalui pengetahuan. Minke dalam Bumi Manusia adalah representasi dari gagasan itu—seorang pribumi yang menolak tunduk pada keterbatasan dan berjuang dengan pena. Dalam konteks hari ini, pesan itu semakin relevan di tengah arus informasi yang penuh distorsi. Literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami sejarah serta menilai mana yang benar dan mana yang manipulatif. “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,” demikian Pram menegaskan pentingnya keadilan dalam berpikir dan bertindak.

Jika Bumi Manusia dan tetralogi lainnya menyoroti perjuangan kebangsaan, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu menjadi catatan paling personal tentang penderitaan dan ketidakadilan yang ia alami. Ditulis setelah bertahun-tahun mendekam di Pulau Buru, buku ini bukan sekadar keluh kesah seorang tahanan politik, melainkan refleksi mendalam atas represi negara terhadap kebebasan berpikir dan berekspresi. Ia menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat mengendalikan kebenaran dan membentuk sejarah sesuai kepentingannya. Lebih dari sekadar kesaksian, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu adalah perlawanan terhadap pelupaan, sebuah pengingat bahwa keadilan harus terus diperjuangkan meskipun dalam keterasingan yang dipaksakan. Buku ini juga mencerminkan keberanian Pram dalam mempertahankan pemikirannya, meskipun berada dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk bersuara lantang. Di balik keterasingannya, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa kata-kata dapat melawan ketidakadilan dan bahwa sejarah harus dituliskan dengan keberanian.

Selain itu, Bukan Pasar Malam memperlihatkan sisi humanisme Pram yang begitu tajam. Novel ini mengisahkan tentang kepulangan seorang anak kepada keluarganya, sekaligus sebagai renungan mendalam tentang kegetiran hidup. Lewat narasi yang sederhana tetapi menyentuh, Pram menggambarkan ketidakberdayaan individu di hadapan kenyataan sosial yang keras. Novel ini menunjukkan bagaimana keterbatasan ekonomi, ketidakpastian hidup, dan kepedihan kehilangan menjadi bagian dari pengalaman manusia. Membaca Bukan Pasar Malam mengingatkan saya bahwa karya Pram selalu adalah merupakan sebuah persaksian tentang kemanusiaan yang rapuh dan perjuangan pribadi yang penuh luka. Novel ini memberikan perspektif yang lebih luas bahwa penderitaan bukan hanya milik mereka yang berjuang melawan kekuasaan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh banyak orang.

Peringatan satu abad Pram mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah netral. Ada upaya sistematis untuk menghapus jejaknya, membungkam karyanya, dan menempatkannya dalam bayang-bayang gelap sejarah Indonesia. Namun, waktu membuktikan bahwa pemikiran yang lahir dari kegelisahan yang tulus tak bisa begitu saja dilenyapkan. Hari ini, karyanya kembali dibaca, dipentaskan, dan didiskusikan. Ide-idenya terus hidup dan menemukan ruangnya sendiri.

Merawat pemikiran Pram tidak cukup hanya dengan membaca dan mengenangnya. Ia harus dihidupkan dalam cara berpikir dan bersikap. Kritiknya terhadap ketimpangan masih relevan ketika kita melihat kesenjangan sosial yang semakin lebar. Gagasannya tentang kebebasan berpikir perlu terus digaungkan saat ruang-ruang diskusi semakin menyempit. Keberaniannya dalam menulis melawan arus harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tetap bersuara di tengah derasnya arus pragmatisme dan oportunisme. Merawat pemikiran Pram berarti menjaga api kesadaran tetap menyala. Bukan hanya mengenang seorang sastrawan besar, melainkan memastikan bahwa warisannya tidak berhenti menjadi sekadar catatan sejarah. Sebab, sebagaimana yang ia tunjukkan lewat hidup dan karyanya, kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah dunia selama ada keberanian untuk menuliskannya.

ariefrosyid.id_pramoedya