Sejak hari Kamis kemarin di akhir pekan ini, perjalanan silaturahmi gagasan membawa saya kembali pulang ke kampung halaman di Makassar. Kepulangan kali ini cukup istimewa. Saya mendapatkan kehormatan untuk hadir dan menjadi salah satu pembicara dalam agenda bersejarah: Dialog Budaya Haul 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari sekaligus peresmian Syekh Yusuf Corner di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Sebuah kebanggaan bagi saya, karena forum ini dibuka langsung dengan sambutan luar biasa dari podium oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Kiai Haji Nasaruddin Umar. Kehadiran Menag mempertegas posisi penting fasilitas baru ini sebagai pusat edukasi, riset, dan pelestarian khazanah keislaman Nusantara.
Ketika berbicara tentang operasionalisasi Syekh Yusuf Corner ini, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: Mengapa pusat kemajuan Islam Indonesia di dunia harus dimulai dari Makassar?
Jawabannya ada pada jejak sejarah. Rekam jejak masa lalu membuktikan bahwa Makassar bukan sekadar daerah pesisir, melainkan salah satu pusat perdagangan dunia pada masanya. Makassar adalah simpul dunia yang menghubungkan berbagai bangsa, kebudayaan, dan pemikiran internasional.
Dari simpul inilah lahir corak Islam Indonesia yang khas dan otentik. Sebuah model keberagamaan yang terbukti sangat ramah terhadap sesama, mampu hidup berdampingan secara damai dengan multibudaya dan multiagama di masyarakat. Karakteristik “Islam Wasathiyah” (moderat) yang tumbuh dari bumi Nusantara ini memiliki keunikan tersendiri jika disandingkan dengan corak Islam yang ada di kawasan Timur Tengah.
Syekh Yusuf Al-Makassari memiliki keistimewaan di antara ulama besar lain di tanah air. Ketika sebagian besar ulama memiliki pengaruh yang kuat di lingkup domestik atau regional Nusantara, wilayah pengaruh Syekh Yusuf telah melintasi samudera.
Beliau bukan hanya diakui sebagai Pahlawan Nasional di Indonesia, melainkan menjadi satu-satunya ulama Indonesia yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional di luar negeri, tepatnya di Afrika Selatan.
Syekh Yusuf bertindak nyata sebagai jembatan yang menghubungkan dua benua besar: Asia dan Afrika. Bahkan, gagasan besar mengenai solidaritas negara-negara berkembang dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 silam secara spiritual diilhami oleh ketokohan dan jejak perjuangan Syekh Yusuf.
Semangat beliau dalam melawan penindasan dan memperjuangkan kesetaraan ras diakui secara mendalam oleh tokoh kemanusiaan dunia, Nelson Mandela. Kedalaman spiritualitas tasawuf yang beliau miliki tidak membuat seseorang menjadi pasif, melainkan melahirkan keberanian konkret untuk membela keadilan dan kemanusiaan di mana pun kakinya berpijak.
Menteri Agama, Kiai Nasaruddin Umar, dalam penyampaiannya dari podium menegaskan sebuah pesan penting yang sangat sinkron dengan gerakan kami di Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY).
Menag mengingatkan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk menyelamatkan manuskrip, mengembangkan riset, dan menghadirkan pusat-pusat dokumentasi agar warisan intelektual Syekh Yusuf dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang.
Kehadiran Syekh Yusuf Corner di UIN Alauddin ini harus kita sambut sebagai wadah resmi untuk menunaikan tanggung jawab tersebut. Kampus dan organisasi kepemudaan tidak boleh membiarkan warisan agung ini menjadi dokumen sejarah yang berdebu.
Sebagai Ketua Umum AMSY, saya mengajak seluruh elemen intelektual muda, akademisi, dan mahasiswa untuk memaksimalkan operasionalisasi pusat riset ini. Mari kita jadikan ruang ini sebagai laboratorium gagasan untuk mengemas nilai-nilai luhur kepahlawanan dan spiritualitas Tuanta Salamaka menjadi solusi atas krisis kemanusiaan modern global.
Terima kasih kepada UIN Alauddin Makassar, Kementerian Agama, dan seluruh pihak yang telah melahirkan ruang literasi hebat ini. Dari Makassar, mari kita suarakan kemajuan Islam Nusantara untuk menerangi peradaban dunia!
Selamat memulai pekan yang baru untuk rekan-rekan sekalian. Mari terus bergerak ke tengah lapangan dengan hati yang bersih dan pikiran yang tajam!